• SDN BATUPUTIH DAYA I
  • Berkarakter, Berakhlak, Cerdas, Mandiri, dan Berprestasi

PENA DI UJUNG USIA

Kisahku bermula pada tahun 2022, saat sebuah surat keputusan mengubah arah hidupku. Aku resmi dilantik sebagai guru PPPK, sebuah momen yang seharusnya dipenuhi sorak kebahagiaan. Namun, rasa haru itu bercampur cemas ketika aku mengetahui lokasi penugasanku: SDN Batuputih Daya I, sebuah sekolah dasar di pelosok desa yang jauh dari hiruk pikuk kemajuan teknologi. Tempat itu sangat berbeda dengan sekolah swasta tempatku dulu mengabdi—sekolah perkotaan yang telah akrab dengan proyektor, internet, dan pembelajaran digital.

Hari pertama menginjakkan kaki di SDN Batuputih Daya I, aku seakan melangkah mundur ke masa lalu. Ruang kelas sederhana, papan tulis kusam, dan keterbatasan fasilitas menjadi pemandangan sehari-hari. Namun di balik kesederhanaan itu, aku bertemu dengan para guru yang luar biasa. Mereka datang dari latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang mahir teknologi, ada yang cukup, dan ada pula yang sama sekali belum mengenal komputer.

Di antara mereka, sosok itu paling membekas di hatiku. Namanya Nur Lailatul Badriyah, atau yang akrab kami sapa Ibu Badriyah. Usianya telah melewati setengah abad. Rambutnya mulai memutih, langkahnya tak lagi secepat dulu, namun semangatnya—ah, semangatnya tak pernah menua. Ia adalah potret keteguhan seorang guru sejati.

Setiap hari, saat langit masih gelap dan ayam belum berkokok, Ibu Badriyah telah bersiap meninggalkan rumahnya di Pulau Talango. Pukul lima pagi, ia menaiki tongkang menembus laut menuju Kota Sumenep, lalu melanjutkan perjalanan darat hingga Batuputih. Jarak tempuh hampir 50 kilometer ia lalui setiap hari. Angin laut yang dingin, ombak yang kadang tak bersahabat, dan tubuh yang lelah seakan tak pernah mampu menghentikannya. Sesampainya di sekolah, ia kerap duduk sejenak di kursi guru, memejamkan mata, mengatur napas, lalu bangkit dengan senyum—siap mengajar.

Ketika Kurikulum Merdeka mulai diterapkan, tantangan baru pun datang. Dunia pendidikan bergerak cepat menuju digitalisasi. Pelatihan, webinar, dan tuntutan penguasaan teknologi bermunculan di mana-mana. Bagi sebagian guru, itu adalah peluang. Namun bagi yang lain, termasuk Ibu Badriyah, itu terasa seperti dinding tinggi yang sulit dipanjat.

Aku masih ingat hari ketika ia menghampiriku dengan suara lirih namun penuh tekad. “Nak, ajari saya komputer. Saya tidak mau tertinggal,” katanya. Kalimat sederhana itu menusuk hatiku. Di usianya yang tak lagi muda, ia tidak memilih menyerah. Ia memilih belajar.

Sejak hari itu, setiap selesai mengajar, kami duduk berdampingan di depan komputer sekolah yang sederhana. Tangannya gemetar saat menyentuh mouse. Ia sering salah menekan tombol, sering lupa langkah-langkahnya, bahkan berkali-kali hampir menyerah. Namun setiap kali gagal, ia menghela napas, tersenyum kecil, dan berkata, “Ulangi lagi, Nak.”

Ia belajar Microsoft Word untuk membuat soal, Excel untuk mengolah nilai, PowerPoint untuk presentasi, bahkan mencoba game edukasi demi murid-muridnya. Wajahnya selalu berseri setiap kali berhasil mengetik satu paragraf tanpa salah. Matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.

Di sanalah aku belajar arti perubahan yang sesungguhnya. Bukan tentang teknologi canggih atau perangkat mahal, melainkan tentang keberanian untuk terus belajar, bahkan ketika usia dan keadaan seolah tak berpihak. Ibu Badriyah mengajarkanku bahwa guru sejati bukanlah mereka yang paling pintar, melainkan mereka yang tak pernah berhenti berjuang demi murid-muridnya.

Kini, setiap kali pena menari di tanganku, kisah Ibu Badriyah selalu hadir. Ia adalah bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari siapa saja, kapan saja, bahkan dari tangan renta yang gemetar—selama hati tetap menyala untuk mencerdaskan bangsa.

 

BIONARASI

Zainorrahman adalah guru SDN Batuputih Daya I, Kabupaten Sumenep. Ia mengabdikan diri di daerah pelosok dengan semangat literasi dan pendidikan bermakna. Aktif menulis kisah inspiratif, ia percaya perubahan pendidikan lahir dari ketulusan, ketekunan, dan keberanian belajar sepanjang hayat, serta membina murid agar tumbuh berkarakter, mandiri, berdaya, kritis, dan berakhlak mulia.

 

1 Komentar

Guru hebat teruslah berjuang demi anak bangsa

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
DIGITALISASI

Digitalisasi di bidang pendidikan telah membawa perubahan signifikan dalam cara proses belajar-mengajar dilakukan, termasuk pelaksanaan ujian. Beberapa manfaat dari peralihan ke CBT (Co

21/12/2024 10:00 - Oleh Matwin, S.Pd. - Dilihat 14 kali